Image

Tawazun sangat erat hubungannya dengan pengaturan (manage) waktu. Mungkin ada yang bertanya-tanya apakah arti tawazun. Namun, ada baiknnya kita  membahas beberapa poin penting berikut sebelum masuk ke pengertian tawazun sebenarnya.

Mengapa aktivitas harus dimanage?

1.      Agar mencapai tujuan hidup

Tanpa pengaturan hidup yang matang, kemungkinan seseorang untuk mencapai keberhasilan sangat kecil.

2.      Agar dapat menunaikan hak-hak orang lain

Tidak hanya diri kita sendiri yang memiliki hak untuk mendapatkan sesuatu, tetapi juga orang lain pun memiliki hak atas diri kita.

Misalnya : Memanage waktu untuk membantu orang tua yang memang memiliki hak atas diri kita

3.      Karena kewajiban (pekerjaan) kita lebih banyak dari waktu yang tersedia

Ingat! Kita tidak hanya mempunyai hak yang harus didapatkan saja, tetapi juga memiliki serentetan kewajiban. Itu disebabkan karena sebetulnya di dalam hidup ini kita tidak hanya memerankan satu peran saja. Peran-peran tersebut, misalnya sebagai:

1. Hamba Allaah (mutlak) >>> beriman,

2. Anak >>> berbakti,

3. Siswa >>> belajar,

dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu saja, kewajiban itu tidak boleh dikerjakan asal-asalan saja. Salah satu contoh yang salah adalah ,“Ah, yang penting mah belajar, urusan susah mah gimana nanti, kan tinggal nyontek.” Bila kejadiannya seperti ini kembali lagi pada kewajiban kita yang mutlak yaitu sebagai hamba Allaah, orang yang beriman akan berdoa dan bersungguh-sungguh melakukan segala sesuatu, karena ia yakin Allaah Maha Pengabul doa.

Itulah sebab-sebab mengapa kita harus memanage waktu.

Bagaimana cara memanage waktu? Inilah Prinsip-Prinsip Manajemen Aktivitas:

1.      Disiplin

Disiplin memang paling sulit untuk dilakukan, namun bila kita sudah berkomitmen, maka ini tidaklah menjadi penghalang kita untuk menuju ke arah yang lebih baik.

2.      Jangan tangguhkan pekerjaan

Jangan tarsok-tarsok*(Ntar, besok)! Menunda pekerjaan hanya akan mempersulit kita untuk mengerjakan pekerjaan lain yang terus menerus datang setiap waktunya.

Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa al-Asy’ari r.a., sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, “Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.”(Kitab al-Amwal, 10).

Allaah s.w.t. bersumpah dengan masa, menunjukkan waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shalih dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang dimurkai Allaah. Allaah s.w.t. berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, orang-orang yang saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.” (Al-’Ashr: 1-3)

3.       Berdasarkan Skala Prioritas

Cara membuat skala prioritas adalah sebagai berikut:

a.  Membuat peta masalah.

Dengan bantuan perangkat yang disebut Jouhari Windows mungkin masalah bisa dipetakan dengan jelas.
Kuadran I. Penting dan Mendesak
Misalnya menghadiri rapat tepat waktu, berbelanja saat kehabisan barang, menyelamatkan barang berbahaya dari tangan bayi. Sholat ketika waktunya sudah akan berakhir. Semuanya penting dan mendesak, maksudnya harus segera dilakukan.
Kuadran II. Penting namun Tidak Mendesak
Misalnya menimba ilmu (baik ilmu agama, ilmu umum, ilmu yang sesuai spesialisasi, profesi, dan ilmu lainnya).
Kuadran III. Tidak Penting namun Mendesak
Misalnya mengangkat telpon.
Kuadran IV. Tidak Penting dan Tidak Mendesak
Misalnya nonton film hingga larut malam.

Contoh peta masalah adalah seperti di bawah ini :

Kuadran II

Kuadran I

Penting Tidak mendesak

Penting Mendesak

1. ……. 1. …….
2. ……. 2. …….

Kuadran III

Kuadran IV

Tidak penting Mendesak

Tidak penting Tidak mendesak

1. ……. 1. …….
2. ……. 2. …….

Atau bisa juga seperti ini :

Mendesak

Tidak Mendesak

Penting

1. ……. 1. …….
2. ……. 2. …….

Tidak Penting

1. ……. 1. …….
2. ……. 2. ……

b.  Memaksimalkan kuadran II (Penting namun Tidak Mendesak)

Bisa saja kita me-list mana yang masuk kuadran I,II,III,dan IV. Idealnya, yang paling banyak adalah list di kuadran II, disusul kuadran I, kuadran III, lalu kuadran IV. Seringkali kita terjebak membuat kesalahan sehingga yang seharusnya masuk ke kuadran II menjadi masuk ke kuadran I.

Misalnya, menunda waktu sholat. Sholat yang dikerjakan tepat waktu bisa menjadi optimal dan berkualitas (masuk kuadran II, Penting tapi tidak mendesak), namun karena ditunda jadi dikerjakan terburu-buru (masuk kuadran I, Penting dan mendesak).

Begitupula kuadran III dan IV yang membengkak, padahal kedua kuadran tersebut perlu diminimalisir.
Kesalahan menempatkan prioritas inilah yang membuat hidup kita dan juga hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menjadi kurang berkualitas.

3.      Manfaatkan waktu luang

Memanfaatkan waktu luang sangatlah penting karena “Waktu adalah Pedang“-“Al-Waqtu Kashshoif”. Arti kata ini mengandung makna bahwa dengan waktu, manusia bisa menjadi mulia, atau dengan waktu manusia bisa menjadi binasa.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

”Ada dua kenikmatan yang banyak dilupakan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhari&Muslim)

Imam Al Ghazali, salah seorang dari ulama besar yang meninggal pada tahun 1111 Masehi, pada suatu majelisnya bertanya 6 hal dengan pertanyaan sederhana namun mendalam. Salah satunya adalah “Apa yang paling jauh?” Tentu bukan tempat, benda langit atau lainnya. Tapi menurut Al Ghazali, yang paling jauh, yaitu masa lalu. Kok bisa masa lalu? Ya iyalah. Kan masa lalu, meskipun sedetik yang lalu jika sudah berlalu kita tidak akan pernah bisa menuju ke sana. Jika ukuran jauh karena jarak, pasti kita masih bisa menuju ke sana. Masa lalu tidak akan bisa (entah nanti, manusia bisa seperti di anime Doraemon dengan mesin waktunya atau seperti kata Einstein yang kurang lebih begini : Bila manusia sudah bisa menemukan kendaraan yang setidaknya menyamai kecepatan cahaya maka ia dapat kembali ke masa lalunya).

Nah, waktu luang sebisa mungkin diisi dengan hal-hal yang positif, contohnya membaca Al-Quran saat guru belum masuk ke kelas.

Bagaimana cara mengelola aktivitas? Berikut beberapa solusinya:

  1. Tentukan tujuan hidupmu! Baik dalam skala jangka pendek (harian), menengah (mingguan s.d. bulanan), maupun panjang (bertahun-tahun mendatang).
  2. Tentukan misi apa saja yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan!
  3. Tentukan kapan saja misi itu harus sudah terlaksana (dalam domain waktu)!

Bagaimana membuat perencanaan harian? Setidaknya, berikut info yang saya dapatkan:

  1. Tulis di kertas kecil setidaknya 5 tugas kewajiban yang paling penting untuk besok, beri nomor urut.
  2. Masukkan kertas ke saku dan besok pagi hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan hal yang tertulis di kertas pada tugas nomor 1 lalu mengerjakannya sampai selesai.
  3. Lakukan tugas nomor 2 dan begitu seterusnya.
  4. Lakukan sampai malam menjelang dan jangan peduli apakah kita hanya dapat mengerjakan separuhnya saja atau bahkan belum sampai separuhnya.
  5. Ulangilah menulis di kertas kecil lagi, tetapi sertakan juga kewajiban kemarin yang belum dilakukan. Begitulah seterusnya.

Nah, sangat terlihat kan? Menunda pekerjaan dapat mempersulit kita karena pekerjaan menjadi menumpuk.

Marilah kita mulai masuk ke dalam inti dari judul di atas. Tawazun. Tawazun berarti Seimbang.

Dalam Q.S. Al-Mulk 67:3, Allaah telah mengisyaratkan kita untuk hidup seimbang.

[67:3] Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

 Seimbang di sini juga termasuk seimbang dalam pembagian waktu seperti di atas yang telah dituliskan sebelumnya.

Apabila ditelisik lebih jauh, manusia memiliki 3 fithrah, yaitu:

1.      Al-Jasad (Jasmani)

“Mu’min yang kuat itu lebih baik/ disukai Allaah dari pada mu’min yang lemah“ (H.R. Muslim)

Agar tubuh kita kuat, kita butuh beberapa hal yang disebut Kebutuhan Jasmani, yaitu:

a.  Makan makanan yang halaalan thoyyibaan (halal dan baik)

Sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Baqoroh 2:168

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Q.S. Al-Baqoroh 2:168)

b.  Beristirahat yang cukup, tidak kurang dan tidak berlebihan

”Dan janganlah kalian berlebihan sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orang yang berlebihan.” (QS. Al An’am 6:141).

Lalu ditambah lagi dengan:

”dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,”(QS. an-Naba’ 78: 9)

2.      Al-Aql (Akal)

Akal adalah yang membedakan manusia dan hewan. Melalui akal,manusia dapat mengetahui hingga mengenali hakikat sesuatu, sehingga dapat mencegahnya dari kemungkaran.

3.      Ar-Ruuh (Roh)

Kebutuhan Roh adalah Dzikrullaah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allaah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ro’d [13]: 28).

Lalu di dalam Q.S. Al-Jumu’ah 62:9-10,

“Dan bila shalat telah ditunaikan, berpencarlah kamu di bumi ini, carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak, semoga kamu beruntung.” (Q.S. Al-Jumu’ah 62:9-10)

Tawazun ternyata memiliki posisi yang penting pula dalam Islam, karena Ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan, UMMATAN WASATHON, umat yang seimbang.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Al Baqarah(2):143

Sebagai penutup, berikut rangkaian kalimat untuk direnungkan bersama:

Untuk memahami makna SATU TAHUN, tanya seorang siswa yang tidak naik kelas.

Untuk memahami makna SATU BULAN, tanya seorang ibu yang bayinya prematur.

Untuk memahami makna SATU MINGGU, tanya seorang editor majalah mingguan.

Untuk memahami makna SATU HARI, tanya seorang pekerja dengan gaji harian.

Untuk memahami makna SATU MENIT, tanya seseorang yang ketinggalan kereta.

Untuk memahami makna SATU DETIK, tanya seseorang yang selamat dari kecelakaan.

Untuk memahami makna SATU MILI DETIK, tanya seorang atlet lari.

Wallaahu a’lam bishshowab.

Materi Pra Dauroh 2

Oleh Kang Rosyanto.

Sumber lain:

Buleti Jum’at Nuurul Bayaan

http://www.asysyariah.com

http://www.ruangmuslim.com