Image

Belajar itu tidak pernah puas. Apabila dalam tahap belajar kita sudah merasa puas, itu namanya SOMBONG. Ayo kita perbaiki niat kita untuk belajar dan mendalami isi Al-Qur’an. Jangan dulu merasa puas dengan ilmu yang kita miliki karena ada Allaah Yang Maha Pandai, Ar-Rasyiid . Dialah Yang Menciptakan kita sehingga kita dapat memahami sebagian kecil ilmu-Nya itu.

“… dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allaah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. …” (Al-Baqoroh 2:255)

 

Berhubungan dengan ilmu, ada 4 tingkatan tentangnya :

  1. 1.  Jahil

Tidak mengetahui sesuatu apapun >>> Jahlun

  1. 2.  Syakun

Ragu-ragu (hanya meyakini sebesar ±25% s.d. ±50%)

  1. 3.  Dzoonun

Meyakini sebesar 75% >>> Suudzon (tidak boleh, karena sudah berprasangka

buruk 75%)

  1. 4.  Yakin

Percaya sepenuhnya(100%)

 

Kembali ke bahasan kita, Al-Qur’an. Rasulullaah SAW adalah teladan kita umat Islam. Umur Rasulullaah SAW itu relatif, dari sudut :

-kuantitas = sedikit, karena hanya 63 tahun

-kualitas     = panjang, karena dengan umurnya yang sedikit itu, beliau dapat mengubah pandangan jahiliyah dunia melalui Islam.

Kita harus mencintai Nabi Muhammad SAW. Cara kita untuk mencintai beliau ada banyak. Salah satunya dengan membaca Sholawat dan Al-Qur’an.

Sholawat itu tanda cinta, membaca Al-Qur’an pun juga begitu.

Nama lain Al-Qur’an :

1. Al-Qur’an (Bacaan)                                                4. Al-Aliy

2. At-Tanzil (Turun secara berproses)                  5. Al-Furqon (Pembeda)

3. Al-Kitaab (Tulisan)                                                 6. Asy-Syifa (Obat)

Mengapa Al-Qur’an dinamai Al-Qur’an, bukan dengan nama lainnya?

Kita tinjau dahulu kata Al-Qur’an berasal dari : Qof – Ro – An, tersirat bacaan, yang berati harus dibaca.

Nama lain tidak / kurang cocok, karena contohnya saja Al-Kitaab = tulisan, yang mungkin diartikan beberapa orang hanya sebagai tulisan saja yang tidak wajib dibaca. Nama Al-Qur’an memang sangat cocok.

Jadi, apabila begitu, apa hukum membaca Al-Qur’an?

Hukum membaca Al-Qur’an adalah Fardu’ain yang artinya tidak dapat diwakilkan dengan siapapun dan tidak gugur kewajiban kita untuk membaca Al-Qur’an bila orang lain mengerjakannya.

Membaca Al-Qur’an itu melibatkan indera kita. Mata melihat, lidah bersuara, telinga mendengarkan suara kita sendiri, sehingga hati menjadi tenang.

Lebih baik kita memperbaiki kualitas membaca Al-Qur’an dan memerhatikan masalah berikut :

4 Kesalahan Umum dalam Membaca Al-Qur’an :

1. Tidak konsisten dalam membaca tanda-tanda panjang

2. Tidak konsisten dalam membaca gunnah

3. Pengucapan yang tidak sempurna

4. Huruf sukun yang dipantulkan.

 

Ayo kita perbaiki bacaan Al-Qur’an kita agar dapat fasih. Fasih itu artinya :

-bacaan dilafalkan dengan vokal sempurna, dan

-tidak memantulkan sukun, kecuali sukun huruf-huruf qolqolah.

 

Jangan jauhkan Al-Qur’an dari kita! Komitmen itu Karena Kebiasaan.

 

Berikut beberapa Keutamaan membaca Al-Qur’an menurut beberapa Ayat Suci Al-Qur’an dan Hadist Shohih :

  1. Firman Allah Swt: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)
  2. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16).
  3. Firman Allah Swt: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. ” (Yunus: 57).
  4. Sabda Rasulullah Saw: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
  5. Dari An-Nawwas bin Sam’an ra. katanya: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini.” (HR, Muslim).
  6. Dari Utsman bin Affan ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
  7. Dari Ibnu Mas’ud ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
  8. Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash ra, bahwa Nabi Saw bersabda: “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
  9. Dari Aisyah ra, katanya: Nabi Saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
  10. Dari Ibnu Umar ra, Nabi Saw bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469).
  11. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
  12. Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)
  13. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’a) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).
  14. Dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).
  15. Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah Saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim).
  16. Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)
  17. Dari Aisyah ra, Raslullah Saw bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhari, Muslim)
  18. Dari Al Barra bin Azib ra, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada Nabi Saw, maka bersabda nabi Saw, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhori dan Muslim).

Setelah kita mengetahui betapa banyak keutamaan membaca Al Quran, maka mulai hari ini, mari kita perbanyak membaca Al Quran. Dan bila ada dari kita yang mungkin masih belum lancar membaca Al Quran , jangan patah semangat, lihatlah hadits  No.9, teruslah membacanya, karena Al Quran yang yang kita baca, akan menemui kita dihari kiamat kelak, lihatlah sabda Rasulullah Saw, pada hadits No. 13 diatas. Selain itu Al Quran yang kita baca,  akan memberikan syafaat untuk kita (hadits No. 4).

Oh, ya. Mungkin pernah mendengar kata tajwid dan tahsin? Sebenaranya kedua kata ini memilki arti bahasa yang sama. Jadi jangan sampai bingung dan pusing membedakannya ya. Karena dua kata ini memang sama arti.

Nah, setelah belajar Al-Qur’an, maka kita lebih baik mengajarkannya. Di mana kita bisa mengajarkan Al-Qur’an? Salah satunya adalah di dalam majelis mentoring. Untuk mementor, kita sebisa mungkin harus mengetahui tipe adik kita apakah ia termasuk ke tipe visual atau tipe audio, misalnya untuk:

  1. Tipe visual   : menggunakan papan tulis
  2. Tipe audio   : menyuruh adik untuk mengulangi lagi.

Bukan berarti kita berhak sombong saat menjadi pementor, malahan karena ketidaktahuan kita untuk memahami dan untuk mencintai seseorang yang membuat kita menjadi pementor. Jangan sampai menyalahartikan. Pahami esensinya terlebih dahulu.

Menjadi Mentor, kuncinya :

  1. Tahu      >>> kebutuhan adik
  2. Mampu >>> menjadi seorang guru untuk mencari solusi
  3. Mau       >>> menjadi seorang teman untuk tempat saling berbagi cerita

Terbukti, kan. Ternyata menjadi pementor itu membutuhkan rasa cinta pada adik-adik kita. Nikmatilah cinta bersama mereka sebelum kita tak lagi bisa menikmatinya. Namun kadangkala, menyelesaikan amalan sebelum ada niatnya juga tidak mengapa. Artinya tidak usah terlalu dipikirkan, bila dipikir terlalu jauh, maka kesempatan kita mengajari Al-Qur’an pun tanpa terasa pergi begitu saja. Sewajarnya saja, karena sebenarnya cinta itu tidak terdefinisi tetapi turunan cinta terdefinisi, yaitu setia, memeluk, dan sebagainya. Melalui turunan cinta itulah kita mencintai adik kita.

Mentoring itu berbeda dengan Liqo. Mentoring itu untuk mengajak adik-adik kita tahu tentang Islam, Al-Qur’an, dan untuk membuat mereka nyaman dengan Islam. Sedangkan Liqo sendiri adalah agar membuat pesertanya lebih mendalami materi. Jadi, buatlah mereka para adik nyaman saja dulu dengan Islam, jangan memaksakan untuk menjejali mereka materi sedang mereka tidak merasa nyaman dengan Islam sendiri. Ya! Butuh kunci yang 3 tadi. Ajarilah adik kita Al-Qur’an tetapi jangan melupakan esensi mentoring. Inilah InsyaAllaah ladang amal kita. Ingat! Sampaikanlah walau 1 ayat.

 

Walaupun begitu, janganlah kita sampai salah kaprah. Kita harus lebih mengutamakan dimentoring (yang artinya dibina) dari pada memberi mentor (yang artinya membina).

 

“Jadilah bintang kecil, berkelip tetapi tidak mengenal gerhana. Percuma menjadi matahari tetapi apabila malam datang lalu menghilang“

 

 

Narasumber :

–          Itang Kurniawan, S.Sos.I

–          Kang Novri

–          Kang Dito

Sumber lainnya :

http://jalandakwahbersama.wordpress.com